.

Thursday, July 10, 2014

Tadarrus Alquran di Bulan Ramadan

Oleh KH Cholil Nafis, PhD
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PB NU/
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia Pusat

DICERITAKAN dari Watsilah bin Al-Asqa' bahwa rasulullah saw, bersabda: "Shuhub Ibrahim diturunkan pada awal bulan ramadhan, Kitab Taurat turun di bulan Ramadhan, Kitab Injil turun pada tanggal 13 Ramadhan, Kitab Zabur turun pada tanggal 18 Ramadhan, dan Al Qur'an diturunkan setelah tanggal 24 Ramadhan". (HR. Thabrani)

Hadits ini menunjukkan betapa mulia bulan suci Ramadhan, sehingga Allah SWT menurunkan kitab-kitab suci kepada rasul-rasul-Nya. Semua agama samawi memiliki kitab suci sebagai pedoman dan panduan hidup agar tidak tersesat dalam mencari Tuhan yang berhak disembah dan dapat mengarungi hidup sesuai petunjuk Yang Maha Pencipta.

Kesesatan dan kerusakan akan terjadi jika sesuatu dioprasikan tidak sesuai dengan manual book (buku pedoman) sebagai pegangannya. Agama-agama samawi pasti dilengkapi dengan kitab suci sebagai pedoman dalam beragama dan menjalani hidup. Allah menurunkan Suhuf untuk agama Al hanif Nabi Ibrahim a.s, Kitab Taurat kepada agama Yahudi Nabi Musa a.s., Kitab Zabur kepada Nabi Daud a.s., Kitab Injil kepada agama Kristen Nabi Isa a.s, dan Alquran kepada agama Islam Nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad saw adalah visualisasi Alquran dalam menjalani hidup dan keteladanan bagi umatnya. Pada saat bulan Ramadhan tidak hanya mengulang-ulang membaca Al Quran namun juga bertadabbur dan mengamalkan. Rasulullah saw. melakukan hal tersebut di masjid.

Rasulullah saw, bersabda: "Dan tidaklah satu kaum berkumpul dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), mereka membaca Kitab Allah dan saling mempelajarinya diantara bereka, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, kasih sayang akan menyelimuti mereka, malaikat akan menaungi mereka, dan Allah akan menyebutkan mereka di tengah makhluq yang ada di sisi-Nya". (HR. Muslim)

Tradisi membaca Alqu'an di bulan Ramadhan dilestarikan paran ulama salaf. Qatadah memiliki tradisi mengkhatamkan Alquran setiap tujuh hari, tapi kalau bulan ramadhan mengkhatamkan Alquran setiap tiga hari dan pada sepuluh terakhir Ramadhan mengkhatamkan Alquran setiap malam.

Imam Syafi'i mengkhatamkan Alquran enam puluh kali selama sebulan ramadhan, yang semua itu dibaca saat menunaikan shalat. Imam malik menghentikan baca hadits dan mengajar kitab selama bulan Ramadhan untuk membaca Alquran.

Para ulama terdahulu membaca Alquran sekaligus mempelajari ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya dan diamalkan dalam kesehariannya. Pembacaan Alquran seperti inilah yang tercermin dalam intelektualitas dan kepribadian mereka sehingga memadukan agama, ilmu dan amal. Pola interasi ilmu, agama dan amal mulai memudar akhir-akhir ini sehingga membaca hanya dimaknai sebagai pekerjaan rutinitas atau hanya menikmati kemerduan bacaannya.

Banyak distorsi pemanaknaan bahasa pembaca atau yang banyak baca Alquran dalam konteks ibadah dan keilmuan. Realitanya, banyak masjid yang mencari imam shalat yang bacaannya bagus bukan yang banyak ilmunya karena banyak membaca. Mereka salah faham dengan hadits yang menyatakan bahwa yang paling layak menjadi imam adalah aqrauhum (yang banyak baca). Dianggapnya yang lebih utama menjadi imam adlah yang fasih dan merdu suaranya, padahal sebenarnya yang utama itu adalah yang pintar karena banyak membaca.

Ada beberapa tipe dalam membaca Alquran. Di antaranya, pembaca yang hanya terpaku pada keindahan sifat huruf dan tartilnya, pembaca yang memahami maknanya sebagai dasar pengamalan agama dan pembaca yang menjadikan Alquran sebagai dasar membangun intelektualitas.

Semestinya orang yang membaca Alquran dapat memperindah suara dalam mengucapkan huruf-hurufnya, menjadi sumber intelektualitas dan pijakan dalam kehidupannya. Tuntunan ini ditegaskan dalam firman Allah SWT yang turun pertama kali kepada nabi Muhammad saw: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-`Alaq: 1-5). (*)

Baca Juga:

Tiap Kamis Masjid Gede Kauman Jogja Sediakan Buka Puasa 1200 Porsi Gulai Kambing

MUI Anjurkan Zakat Fitrah 3 Kg Beras

Tiga Pasangan Muda Mudi Diamankan Saat Berduaan


Selengkapnya

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►