.

Friday, July 11, 2014

Berlatih Syufu Memantapkan Tauhid

Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Syarif Abdussalam

TRIBUNNEWS.COM -- MELAKSANAKAN ibadah saum saat Ramadan tidak menyurutkan para santri dan santriwati Pesantren Persatuan Islam (Persis) 99 Rancabango, Garut, untuk berlatih bela diri. Bahkan, bela diri ini menjadi kegiatan pilihan yang dilakukan para santri menjelang Magrib selain bermain sepak bola.

Jenis bela diri yang digemari para santri di pesantren ini adalah syufu tae syukhan. Jenis bela diri tersebut merupakan ciri khas pesantren Persatuan Islam di Indonesia. Secara keseluruhan, gerakannya mirip bela diri kungfu asal Tiongkok.

Sore itu di halaman asrama putra Pesantren Persis 99 Rancabango, Garut, Rizal Syamsul (16) dan Rafi Tamam (16), santri kelas II Mualimin, berlatih syufu. Aksi mereka disaksikan para santri dari atas balkon dan pinggir koridor ruang asrama.

Awalnya, Rafi memukul perut Rizal untuk menguji kekuatan tubuhnya. Setelah dilakukan pemanasan, mereka mulai bertarung. Pukulan dan tendangan pun diarahkan kepada lawannya. Tempo gerakan sangat cepat, mirip adegan kungfu yang diperankan aktor asal Tiongkok.

Walaupun keras, mereka tidak pernah menggunakan pukulan dan tendangan ke arah kepala dan alat vital. Pukulan, tendangan, dan tangkisan pun dilancarkan bergantian sampai mereka merasa cukup berlatih.

"Syufu artinya pemberhentian atau pengumpulan seluruh kajian ilmu bela diri, sedangkan tae syukhan berarti siasat tangan bangsawan. Inti dari bela diri ini adalah membela diri dengan dasar ketauhidan kepada Allah," kata Rizal saat ditemui di sela latihannya, Kamis (10/7/2014).

Latihan dan praktiknya, kata Rizal, dilakukan setiap dua kali seminggu setelah waktu Asar. Setidaknya terdapat 50 santri yang mengikuti latihan bela diri di pesantren tersebut. Selain menjalani pelatihan fisik, mereka pun mengikuti pelatihan mental.
Menurut Rafi, syufu merupakan olahraga bela diri yang diwajibkan bagi semua santri. Karenanya, jumlah anggota syufu akan bertambah seiring dengan datangnya tahun ajaran baru setelah Ramadan.

"Selain bertarung dengan tangan kosong, kami pun bertarung dengan pedang, tongkat, belati, dan double stick. Kegiatan ekstrakurikuler ini menjadi unggulan yang ditawarkan kepada setiap santri yang belajar di pesantren Persis," katanya.

Keahlian yang diberikan kepada santri, katanya, adalah kelincahan fisik, senam ketangkasan, roll, back roll, salto, dan gerakan lainnya. Untuk tingkat kelas tsanawiyah, santri cenderung dilatih ketahanan fisik, terutama senam. Untuk tingkat mualimin, mereka dilatih ketangkasan fisik dan jurus. (*)

Baca Juga:

Tadarrus Alquran di Bulan Ramadan

Tiap Kamis Masjid Gede Kauman Jogja Sediakan Buka Puasa 1200 Porsi Gulai Kambing

MUI Anjurkan Zakat Fitrah 3 Kg Beras


Selengkapnya

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►