.

Monday, June 30, 2014

Manfaatkan Peluang Bisnis Dari Supporter <b>Bola</b>

DI Indonesia, sepak bola dan fanatisme bagaikan dua sisi keeping mata uang koin yang tidak terpisahkan. Lihat saja di berbagai daerah, suporter berduyun-duyun datang ke tribun stadion untuk melihat dan mendukung tim kesayangannya bertanding di lapangan hijau.

Tribun stadion selalu dipenuhi oleh suporter yang rela datang ke stadion dengan segala daya upaya. Bukan hanya di kandang, partai tandang yang jauh pun diikuti oleh para suporter yang bergerak dalam jumlah massif mendukung tim kebanggaan mereka menjalani partai away.

Fenomena geliat para suporter ini tentu menjadi peluang bisnis yang menggiurkan untuk dibidik. Salah satu pebisnis yang sukses terjun usaha di seputar sepak bola ini adalah laki-laki bernama Arif Wisuda (25).

Dia beralasan serunya sebuah laga sepak bola sangat ditentukan oleh keriuhan fanatisme para suporter. Keberadaan mereka seakan menjadi riuh yang membuat pemain lebih bersemangat dalam bertanding.

"Fanatisme sepak bola di Indonesia memang sangat luar biasa. Inilah yang menjadi pemikiran saya. Pasti banyak sekali fans club yang membanggakan tim-nya, pasti ingin sekali memiliki atribut tim yang disukainya. Maka saya memberanikan diri terjun di bisnis ini," kata dia, saat berbincang dengan SINDO, di Jakarta, akhir pekan ini.

Arief mengawali bisnis syal untuk para penggemar bola ini sejak 2010 kemudian produk syal rajutan ini diberi nama "Syal Supporter" dengan berbagai macam motif logo masing-masing klub baik dalam negeri maupun manca negara. Di antarannya, Barcelona, AC Milan, Inter Milan, Real Madrid, Manchester United dan Liverpool dan sebagainya.

Bahkan saat ini juga telah keluar syal supporter dengan motif dan logo bendera untuk penggemar piala dunia 2014 seperti Spanyol, Inggris, Brasil, Jerman dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Di bawah mereknya tersebut kemudian dia mencoba memasarkannya melalui beberapa cara di antaranya membuka distro bola di Kediri, Jawa Timur tempat asalnya.

Tidak hanya itu, Arif juga mempunyai strategi pemasaran yang jitu di antaranya melalui web, facebook dan media sosial lain seperti twitter. Strategi pemasaran ini akhirnya pemuda asal Kediri ini mampu mengembangkan bisnisnya hingga sekarang.

"Saya yakin dengan strategi ini berhasil karena jangkauan pemasarannya lebih luas. Beberapa kali saya dapat orderan dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Hongkong bahkan sampai ke Italia," tuturnya.

Syal Suporter, lanjut Arief dijual dengan harga yang bervariasi. Satu syal di banderol mulai dari Rp30.000 - Rp150.000. Harga tersebut disesuaikan dengan kerumitan desain dan jenis bahan yang digunakan.

“Pendapatan bersihnya sekitar 25-30% dari penjualan satu syal. Sementara untuk dikirim keluar negeri untungnya bisa lebih,” jelasnya.

Pembuatan syal dilakukan dua kali kali rajutan untuk menghasilkan produk yang lebih bagus. Bahkan, selain bekualitas lebih halus rajutan sesuai dengan standar ekspor.

Berjalannya waktu, bisnisnya terus berkembang. Peningkatan ini terlihat dari naiknya kapasitas produksi. Jika sebelumnya hanya menghasilkan 200  syal, kini dia berhasil memproduksi 500 syal bahkan bisa sampai 800  syal sepak bola setiap bulan. Jumlah tersebut belum termasuk produk lain seperti topi bola dan pernak pernik lainnya.

Kendati kapasitas produksi terus meningkat, Arief tak menampik persaingan di bisnis ini cukup ketat. Namun begitu, Arief optimis bahwa bisnisnya ke depan akan mengalani kemajuan yang lebih baik lagi.

“Selama kita bisa mempertahankan kualitas dan service prima ke konsumen saya yakin ke depan akan lebih baik,” katanya.

Ia optimis ke depan keuntungan yang bisa dinikmati dari bisnis atribut suporter sangat besar. Untuk bisa menikmatinya, produsen tak hanya fokus pada produksi, tetapi juga harus jeli melihat peluang.

“Bisnis yang pernik-pernik sepak bola tergantung momentum. Produsen harus mengikuti perkembangan jadwal dimulainya liga atau gelaran akbar sepak bola. Oleh karena itu, produsen harus cermat menghitung kapan mereka harus memproduksi dan menjual produk ke konsumen,” tutup Arif.

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►