.

Monday, June 23, 2014

Jangan Pilih Capres yang Membayar

VIVAnews - Pengamat politik, Viktor Silaen, meminta masyarakat untuk tidak memilih pemimpin yang menggunakan cara kotor dalam berkampanye, salah satunya politik uang. Sebab, pemimpin ini dinilai tak layak untuk memimpin negeri ini.

Pada Sabtu, 21 Juni 2014, Viktor memaparkan beberapa macam pengertian kekuasaan. Ada yang berupa alat untuk melayani masyarakat dan ada juga yang teori yang mengatakan bahwa kekuasaan itu didapat dengan menghalalkan segala cara.

"Tak ada tempat untuk berbicara moral. Kalau pakai cara itu (politik uang), capres tak bisa disalahkan. Rakyat yang menerima (uang) juga tak bisa disalahkan," kata dia dalam acara "Pilpres 9 Juli: Jangan Pilih yang Bayar!" di Restoran Horapa, Jakarta.

Kemudian, Viktor mengatakan bahwa seharusnya para capres itu tak menggunakan politik uang. Sebab, ada yang harus dijunjung tinggi para calon pemimpin bangsa: moral dan etika.

"Indonesia itu meninggikan agama. Berarti, harus meninggikan moral dalam berbagai aspek kehidupan. Etika harus menjadi landasan dan peraturan yang tertulis," ujar dia.

Untuk itulah dia meminta masyarakat untuk menolak capres yang "membayar." Sebab, calon tersebut tak memberikan contoh yang baik. Padahal, capres haruslah menjadi teladan yang baik kala dia terpilih menjadi pemimpin.

"Atas dasar itu, tolak capres yang bayar. Jangan pilih. Bukan karena supaya dia kalah, tapi karena dia tak layak jadi pemimpin. Tidak memberikan teladan yang baik," kata dia.

Sementara itu, aktivis Muslim Moderat, Mohammad Guntur Romli, mengatakan suap tersebut merupakan hal yang dilarang agama.

"Suap dalam bahasa arab artinya risuah/rasuah. Risuah itu pemberian dengan iming-iming. Memberi untuk memperoleh sesuatu. Risuah adalah membenarkan yang batil," kata Guntur.

Guntur mengibaratkan suap itu seperti bangkai daging yang diberikan kepada pihak lain. "Pemberian suap itu seperti menerima bangkai daging segar yang dipotong tak menggunakan nama Allah dan tata cara Islam. Risuah seperti itu. Uang yang ditawarkan dalam jumlah besar dan orang tertarik, tapi (prosesnya) haram," kata dia. (ita)

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►