.

Monday, June 9, 2014

BPPT Punya Banyak Prototipe yang Siap Dipakai Industri

Jakarta, HanTer - Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Unggul Priyanto mengatakan dirinya berupaya meningkatkan peran BPPT melalui layanan-layanan teknologi yang selama ini diberikan kepada masyarakat. Baik itu dalam bentuk konsultasi, rekomendasi, advokasi.

“Dengan demikian saya berharap BPPT nantinya akan semakin dikenal dalam hal pelayanan teknologi. Jadi, kalau nanti ada masalah teknologi maka akan selalu menanyakan kepada BPPT,” ujar Unggul, di Jakarta, (6/6).
Dikatakannya, BPPT punya banyak prototipe yang siap dipakai industri dan diproduksi untuk dipakai oleh masyarakat. "Seperti Early Warning System (EWS), alat pembaca e-ktp, pesawat tanpa awak. Kami juga akan menindaklanjuti  arahan dari Menristek, dimana BPPT harus lebih fokus pada pangan, energi, dan air,” ungkapnya.

Unggul menyatakan, BPPT juga melakukan kajian-kajian seperti bagaimana memanfaatkan sumber energi untuk pembangkit listrik yang skala besar. Misalnya mengembangkan batu bara peringkat rendah dengan meng-upgrade menjadi batubara dengan kalori yang lebih tinggi kualitasnya sehingga bisa dipakai untuk pembangkit listrik skala besar.

“Maksud dari batubara peringkat rendah itu adalah yang masih memilliki kandungan air tinggi sampai 60 persen. Kita berusaha agar batubara yang kandungan airnya tinggi dikurangi airnya. Dengan demikian airnya rendah dan nilai kalorinya tinggi. Itu namanya teknologi coal upgrading. Dan, BPPT sudah punya prototipe alatnya untuk teknologi coal upgrading itu. Kita juga sudah tawarkan kepada PLN dan kalau tertarik bisa meminta kepada BPPT,” jelasnya.

Terkait substitusi BBM, Unggul menyatakan bahwa BBM ini adalah masalah yang sangat krusial. “Saat ini Indonesia mengimpor BBM sangat besar, yaitu satu juta barel per hari, sementara produksi kita hanya berjumlah 800 ribu per hari. Dengan demikian, substitusi BBM itu bukan sebagai alternatif lagi, tapi menjadi suatu keharusan,” tegasnya

Untuk substitusi BBM, Unggul melihat bahwa sebenarnya Indonesia memiliki potensi besar untuk pemanfaatan biofuel terutama yang berbasis kelapa sawit. “Mengapa? Karena produksi kelapa sawit kita itu sekarang minyaknya bisa mencapai 30 juta ton, sementara untuk pangan hanya 8 juta ton. Intinya, bagaimana caranya supaya minyak sawit yang sebagian besar di ekspor itu bisa dimanfaatkan untuk menggantikan solar di dalam negeri,” tambahnya.

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►