.

Thursday, March 28, 2013

Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen

Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen

Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen
Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen
Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen - Arus barang yang semakin bebas pada jaman liberalisasi perdagangan menuntut konsumen lebih jeli serta cermat. Bila mereka asal-asalan menentukan produk, bukan sekedar kerugian materi yang terkena imbasnya, namun keamanan serta keselamatan mereka juga turut terancam. Untuk itu maka sudah seharusnya kita menjadi konsumen yang cerdas. Konsumen cerdas ?. ya, telah sepantasnya kita dapat menjadi konsumen yang cerdas. Terutama apabila kita termasuk didalam orang-orang konsumtif yang membeli barang serta layanan tanpa memperhitungkan unsur-unsur mutlak sebagai hak tiap-tiap Konsumen. Untuk menjadi Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen tidaklah terlampau rumit.

Sebagai Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen kita juga harus tahu bahwa konsumen mempunyai hak dan kewajiban yang dilindungi oleh Undang-undang dan mengetahui akses ke lembaga perlindungan konsumen untuk memperjuangkan hak-haknya. Dengan pengetahuan ini maka tingkat kesadaran masyarakat dalam melindungi dirinya sendiri dan lingkungannya bisa menjadi lebih tinggi.Dalam hal ini pemerintah telah membuat regulasi atau payung hukum membuat perlindungan konsumen, serta dengan teratur pemerintah juga melakukan pengawasan. Kementerian perdagangan Republik Indonesia tidak berhenti menambah pengawasan barang beredar pada produk non-pangan ataupun pangan. Tak hanya membuat perlindungan konsumen, pengawasan secara berkesinambungan dapat menciptakan iklim usaha yang sehat di Tanah Air. Demikianlah ditegaskan wakil menteri perdagangan Bayu Krisnamurthi waktu menginformasikan hasil pengawasan barang beredar serta layanan di kantor kementerian perdagangan pada Januari 2013. 

Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen
Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen

Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen

Sementara hasil pengawasan yang dilakukan oleh Kemendag secara keseluruhan selama kurun waktu tahun 2012 telah ditemukan 621 produk yang diduga tidak memenuhi ketentuan. Jumlah temuan ini meningkat sebesar 28 produk dibandingkan tahun 2011. Dari temuan tersebut 61% merupakan produk impor dan 39% merupakan produksi dalam negeri.

Berdasarkan jenis pelanggarannya sebesar 34% produk diduga melanggar persyaratan SNI, 22% diduga melanggar MKG, 43% diduga melanggar ketentuan label dalam Bahasa Indonesia, serta 1% diduga tidak memenuhi ketentuan produk yang diawasi distribusinya. Sedangkan berdasarkan kelompok produk yang diduga tidak memenuhi ketentuan, sebanyak 39% merupakan produk elektronika dan alat listrik, 20% produk alat rumah tangga, 13% produk suku cadang kendaraan, serta sisanya adalah produk bahan bangunan, produk makanan minuman dan Tekstil dan Produk Tekstil (TPT).

Adapun langkah-langkah yang telah diambil sebagai tindak lanjut dari temuan tersebut, yaitu untuk pelanggaran pidana, sebanyak 2 produk telah dilimpahkan ke Kejaksaan (P21), 3 produk tidak dapat dilanjutkan karena tersangkanya meninggal dunia, dan beberapa produk masih dalam penyidikan. Barang-barang tidak layak tersebut telah beredar luas dan tidak mungkin semuanya teridentifikasi petugas. Artinya, konsumenlah yang harus berperan aktif. Karena itu, tuntutan menjadi konsumen cerdas sangatlah penting. Bagaimana caranya untuk bisa menjadi konsumen cerdas?

Pertama, teliti sebelum membeli. Konsumen tidak perlu takut untuk bertanya atau memperoleh informasi langsung dari pelaku usaha.

Kedua, memperhatikan label, manual kartu garansi, dan masa kedaluwarsa. Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) merilis, sepanjang tahun ini disita 1.133 jenis produk pangan ilegal karena tidak terdaftar di Badan POM. Nilai ekonomi produk pangan ilegal tersebut mencapai Rp 1,7 miliar. Sebanyak 99,9 produk pangan tersebut merupakan pangan impor ilegal. Terkait dengan ketentuan label, baru 103 jenis produk yang diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia.

Ketiga, pastikan produk sesuai dengan SNI. Sepanjang tahun ini, Kementerian Perdagangan menyita 28 produk yang tidak memenuhi SNI. Beberapa jenis produk yang wajib SNI adalah tepung terigu, kipas angin, ban mobil, kompor gas, baja tulangan beton, kakao bubuk, dan air minum dalam kemasan.

Keempat, beli sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan. Konsumen harus menjadi konsumen cerdas dalam menyikapi berbagai tawaran diskon yang menggiurkan dari pusat-pusat perbelanjaan. Tidak semua produk yang dijajakan benar-benar dibutuhkan. Kementerian Perdagangan berencana menyelidiki tawaran diskon yang kian marak. Apakah memang benar ada potongan harga, atau jangan-jangan hanya akal-akalan si penjual.

Kelima, tegakkan hak dan kewajiban Anda selaku konsumen. Jika konsumen merasa produk yang dibeli tidak sesuai dan merugikan kepentingannya, konsumen bisa menempuh langkah advokasi. Sayangnya, hasil survei yang dilakukan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) menunjukkan hanya 35,8 persen yang paham bahwa konsumen memiliki hak atas advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa. Hanya 11,3 persen mengetahui bahwa hak tersebut dijamin undang-undang. Artinya, masih sedikit konsumen yang paham akan hak-haknya. Hal ini menjadi celah bagi peredaran barang tak layak.

Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen
Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen
Semakin banyak konsumen yang cerdas, secara otomatis peredaran barang-barang tidak layak berkurang dengan sendirinya. Konsumen cerdas juga lebih mencintai produk dalam negeri ketimbang produk impor. Gerakan mencintai dan membeli produk lokal menjadi benteng terakhir di tengah derasnya aliran barang-barang impor. Dengan mengabaikan produk impor, industri dalam negeri akan tumbuh dan pengangguran pun semakin berkurang.

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►