.

Saturday, July 12, 2014

PKS Bantah Data CRC-KNPI yang Menangkan Jokowi-JK

TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Koalisi Merah Putih Sulsel membantah hasil penghitungan cepat yang dilansir Celebes Research Center (CRC) dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulsel.

Hasil hitung cepat CRC-KNPI yang dipublikasikan live di Celebes TV, Rabu (9/7/2014), menempatkan Jokowi-JK menang 70,93 persen sementara Prabowo-Hatta 29,07 persen.

Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) PKS Sulsel, Asriady Arsal menuturkan, sesuai hasil real count Koalisi Merah Putih yang dikoordinir PKS, data CRC-KNPI tak sesuai data internal PKS.

"Jelas sekali keunggulan Prabowo-Hatta secara nasional. Cuma memang ada kesalahan lembaga survei sehingga informasi yang beredar ke tengah masyarakat juga tidak sesuai kenyataan," kata Asriady di DPRD Makassar, Kamis (10/7/2014).

Versi CRC, Prabowo-Hatta hanya unggul di Selayar saja namun data PKS Prabowo-Hatta juga unggul di Jeneponto dengan presentase 50,87 persen dan Jokowi-JK 49,13 persen.

Data PKS berdasarkan formulir C-1 yang dipegang saksi di seluruh TPS di Sulsel. Hasil akhir di Sulsel; Prabowo-Hatta 37,41 persen sementara Jokowi-JK 62,59 persen.

Ketua PKS Sulsel, Akmal Fasluddin menyebutkan, PKS bertanggungjawab data pilpres di seluruh Indonesia.

"Kami sudah siapkan datanya. Sekarang tinggal tugas kita semua mengawal hasil pipres. Alhamdulillah, hasil akhir
nasional berdasarkan data PKS, Prabowo-Hatta menang," tutur Akmal.

Rekap nasional versi PKS, Prabowo-Hatta 52,04 persen dan Jokowi-JK kalah dengan 47,96 persen.(cr1/yud)

Baca Juga:

Partai-partai Berpotensi Pindah Haluan, PDIP Berpeluang Tak Dapat Kursi Ketua DPR

Cyrus Network : Jika Salah, Kami Siap ditelanjangi

Ramai Kicau Soal TVOne karena Tayangan Quick Count-nya 'Memang Beda'


Selengkapnya

Semester I 2014 Pertumbuhan Industri Migas Meningkat

Jakarta (Antara) - Pertumbuhan industri minyak dan gas meningkat sejak diberlakukannya UU Migas 22 Tahun 2001, kata Sekretaris SKK Migas Gde Pradnyana.

"Sejak pemberlakuan UU Migas tersebut jumlah Wilayah Kerja (WK) telah mencapai 321 dari yang tadinya hanya sekitar 107 WK pada 2001," kata Gde di Jakarta, Kamis.

Lebih lanjut, dari 321 WK itu sebanyak 80-nya adalah WK Eksploitasi yang terbagi kepada 58 WK produksi dan 22 WK pengembangan. Sementara itu sisanya 241 adalah WK eksplorasi.

Pertumbuhan pesat itu, kata Gde, diharapkan mampu berkembang lagi menilik besarnya cadangan migas di seantero Indonesia.

Setidaknya diperkirakan terdapat cadangan minyak bumi di Indonesia sebanyak 7.389, 58 MMSTB dengan terbagi 3.462,00 MMTB telah terlacak, sedangkan sisa potensinya 3.927,58 MMTB.

Sementara itu, total cadangan gas diperkirakan total sebesar 149,98 TSCF dengan terbagi jumlah terlacak 99,77 TSCF dan sisa potensinya 50,21 TSCF.

"Dengan banyaknya cadangan itu membuat investor tetap melirik migas Indonesia meski mereka mengetahui sejumlah resiko menanamkan modalnya di sektor migas, seperti adanya ketidakpastian hasil dari eksplorasi. Artinya dari eksplorasi sumur migas belum tentu sumur yang ditemukan itu produktif tapi sebaliknya kering."

"Biarpun begitu, menurut pandangan kami tidak ada istilah eksplorasi gagal karena hanya mendapatkan sumur migas kering. Dengan kata lain, eksplorasi itu tidak pernah gagal karena dari kegiatan itu kami memperoleh data biosfer suatu wilayah. Data tersebut jadi milik negara, apapun hasilnya," katanya.

Gde mengatakan terdapat sejumlah ladang minyak dengan produksi yang besar sewperti di Cepu, Minas dan Duri. Secara umum, kata dia, produksi rata-rata harian minyak nasional saat ini 790 barel per hari (bph).

"Maka dari itu, 60 barel-pun dari potensi minyak di suatu lokasi kita korek betul-betul (perjuangkan). Produksi itu untuk pengumpulan minyak dan mengantisipasi kemungkinan kehilangan cadangan minyak yang lebih besar. Misalnya saja jika kita sampai kehilangan dua ribu barel karena gangguan-gangguan keamanan yang bisa saja terjadi di lokasi eksplorasi dan eksploitasi," katanya. (ar)


Selengkapnya

Secuil Hari di Pengungsian Syiah

TEMPO.CO, Sidoarjo - Bocah-bocah pengungsi Syiah asal Sampang di Rumah Susun Sewa Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo, menyambut datangnya hari dengan bermain sepak bola. Mereka terlihat gembira menggocek si kulit bundar untuk dimasukkan ke gawang yang terbuat dari batu bata.

Sementara itu, orang tua mereka mulai berkemas untuk berangkat ke tempat kerja. Sebagian dari mereka bekerja sebagai pengupas kelapa milik seorang juragan setempat. Namun tak sedikit pula yang bermalas-malasan di pengungsian. "Kalau bulan puasa seperti ini banyak yang istirahat, hanya sebagian saja yang kerja," kata salah seorang pengungsi, Bujadin, 41 tahun, Kamis pagi, 10 Juli 2014.

Pengungsi yang bekerja biasanya berangkat pada pukul 08.00 WIB. Pada pukul 12.00 WIB mereka balik ke pengungsian untuk menunaikan salat zuhur. Setelah itu, mereka pergi lagi untuk melanjutkan bekerja hingga pukul 15.00 WIB. "Semula, rata-rata dari kami bekerja sebagai pengupas kulit kelapa," ujar Bujadin.

Penghasilan dari mengupas kulit kelapa, kata dia, Rp 50-70 ribu per hari. Ada pula yang tugasnya menurukan kelapa dari truk. "Karena bangkrut, banyak bos-bos penjual kelapa yang menutup usahanya. Akhirnya kami bingung cari kerja," katanya.

Menurut Bujadin, bila tidak bekerja, pengungsi mengisi hari-harinya dengan beribadah. Puasa mereka juga tidak berbeda dengan puasa umat muslim umumnya. Mereka juga mengikuti pengumuman waktu magrib ataupun imsyak dari masjid terdekat. "Kami mengikuti masjid di dekat pengungsian. Tidak ada bedanya dengan masyarakat yang lain," katanya.

Pada malam hari, para pengungsi menjalankan salat tarawih di aula yang berada di lantai lima rumah susun tersebut. Pengungsi yang tidak kebagian tempat salat biasanya pergi ke masjid terdekat. "Kami salat tarawih 20 rakaat dan witir tiga rakaat," ujar Bujadin.

Seusai tarawih, para pengungsi melakukan tadarus Al-Quran. Anak-anak diwajibkan ikut dalam tadarus tersebut. "Kegiatan kami hampir sama seperti saat di kampung halaman, Sampang, Madura, dulu," katanya.

Pengungsi lain, Anwar, mengatakan ingin pulang ke Sampang pada saat Lebaran nanti. Namun ia belum tahu apakah keinginannya tersebut bisa kesampaian. Satu tahun di pengungsian membuatnya rindu kampung halaman. "Sebenarnya ingin pulang, tapi mau bagaimana lagi kalau kondisinya masih belum kondusif. Kami tidak tahu sampai kapan akan di pengungsian terus," katanya dengan suara pelan.

Menurut Anwar, pengungsi Syiah punya harapan besar pada pemilu presiden kali ini. Anwar berharap siapa pun presiden yang terpilih bisa memulangkan mereka ke Sampang dengan kondisi aman. Harapan itu pula yang mendorong 133 pengungsi berpartisipasi dalam pemilihan 9 Juli lalu. "Semoga pemimpin yang baru nanti bisa memulangkan kami dan melindungi kami," ucap Anwar.

MOHAMMAD SYARRAFAH

Terpopuler

Serangan ISIS Mendekati Mekah

Aburizal Klaim Koalisi Permanen Positif

PBB: Konflik Israel-Palestina Semakin Memburuk  

PKB Jawa Tengah: Jokowi Menang di Semua Basis NU

Jokowi Menang, Indeks Bisa Tembus 5.200  

Pro-Prabowo, Saham MNC dan Viva Group Rontok  

Ahok Sayangkan Dua Kandidat Klaim Kemenangan


Selengkapnya

Posting Lama ►
 

Copyright 2013 Info Plus | SEO By Janvinsu